Langit di atas Sekte Pedang Es bergetar hebat, guntur berdentum seolah alam ikut menyaksikan pertempuran para dewa. Saat gelombang kekuatan maha dahsyat menghantam tubuh Lynx, semua yang hadir menahan napas. Wajah pihak lawan menegang, sebagian bahkan berseri penuh kegembiraan. Mereka yakin tubuh orang misterius yang disebut Plasura akan hancur tanpa sisa, terkoyak oleh kekuatan gabungan yang mampu meluluhlantakkan benua.

Sebaliknya, di pihak Sekte Pedang Es, tubuh para murid dan tetua mereka kaku oleh ketegangan. Jika sosok misterius itu kalah, maka kehancuran sekte hanyalah masalah waktu. Serangan gabungan sebesar itu bukan hanya akan menghapus Plasura, tetapi juga dampak dari ledakannya akan mengguncang sekte Pedang Es, merusak formasi pelindung dan mencelakakan mereka yang ada di tempat tersebut.

Detik demi detik berlalu. Semua menunggu ledakan besar yang akan mengguncang dunia. Namun suara yang mereka nantikan tak kunjung datang. Hanya suara angin es yang melolong di antara pegunungan. Mata semua orang membelalak. Kekuatan gabungan itu, naga putih raksasa dan pusaran es yang mematikan, memang terlihat mengenai sasaran, tetapi bukannya meledak, serangan itu justru terhenti, seperti menabrak penghalang tak kasat mata.

Auranya bergetar, mengecil, dan dalam hitungan detik mulai memudar. Naga putih yang lahir dari kekuatan gabungan sekte-sekte besar itu kini tampak mengecil, tubuhnya retak bagai patung es di bawah matahari, sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya tanpa jejak.

"Bagaimana mungkin..." bisik seorang Immortal, wajahnya pucat pasi.

"Kemana kekuatan gabungan tadi...?" seru tetua Sekte Lembah Gelap yang tidak percaya dengan matanya sendiri.

"Kenapa dia baik-baik saja..." gumam seorang murid Sekte Kabut Dingin, lututnya gemetar.

Di tengah tatapan ribuan pasang mata, Lynx berdiri tegap di udara. Aura hitam kebiruan dari pakaian logamnya berpendar halus, dan di sekitarnya melayang sisa-sisa serpihan energi yang tampak seperti kabut bercahaya masuk ke tubuhnya. Pedangnya tergantung di sisi tubuhnya, belum bergerak sama sekali.

Lynx mengangkat kepalanya perlahan, suaranya menggema dengan tenang namun setiap kata terasa menghantam dada lawannya. "Terima kasih... untuk hadiah energi qi spiritual kalian. Aku jadi tidak perlu bersusah payah mengumpulkannya sendiri."

Kata-katanya seperti petir kedua yang menyambar kesadaran semua pihak. Sembilan Immortal yang memimpin serangan hanya bisa tertegun, mata mereka melebar tak percaya. Mereka bukan hanya gagal melukai lawan, tetapi kini lawan justru berdiri di depan mereka tanpa sedikit pun cedera, bahkan mengaku menyerap energi mereka.

Sebagian dari mereka merasakan bulu kuduk meremang. Mereka mengerti dengan jelas apa yang baru saja terjadi. Energi qi spiritual yang digunakan dalam serangan gabungan bukanlah kekuatan biasa. Itu adalah energi hasil kultivasi yang dikumpulkan dan dimurnikan selama bertahun-tahun, lalu dilepaskan dalam bentuk serangan penghancur. Energi serangan para Kultivator yang biasanya mereka gunakan untuk menyerang, saat bersentuhan dengan musuh ataupun gagal mengenai sasaran, pada akhirnya akan meledak dan menyebar kembali ke alam untuk menjadi qi spiritual yang nantinya dapat di serap lagi oleh para Kultivator lainnya.

Secara teori, menyerap energi serangan semacam itu memang mungkin, tetapi risikonya mengerikan. Selain harus bisa menyerap dengan cepat sebelum energi tersebut meledak, salah sedikit dalam penyerapan bisa meledakkan meridian tubuh penyerapnya. Hanya energi yang selaras dengan elemen dan tubuh sendiri yang mungkin diserap dengan aman. Bahkan bagi Immortal tingkat tinggi, mencoba menyerap energi serangan lawan yang di ranah terendah sekalipun sama dengan mencari mati.

Namun, orang misterius di hadapan mereka ini melakukannya seolah sedang menghirup udara pagi. Sisa aura yang mengalir di sekitar tubuhnya bahkan berputar masuk ke dalam tubuhnya, seolah langit dan bumi sendiri tunduk padanya.

Beberapa tetua Sekte Salju Hitam menelan ludah, suara mereka bergetar di antara rasa takut dan keterkejutan. "Mustahil... dia... dia benar-benar memakai serangan kita untuk memperkuat dirinya..."

Di sisi Sekte Pedang Es, para murid yang sempat hampir menyerah kini menatap ke langit dengan mata berbinar. Beberapa dari mereka bahkan bersujud tanpa sadar, seolah menyaksikan dewa turun ke dunia fana.

Lynx dalam wujud Plasura berdiri tegak di udara, tubuhnya dilapisi aura biru kehitaman efek dari pakaian tempurnya yang di lapisi formasi ilusi. Matanya menatap tajam lawan-lawannya terutama sembilan Immortal yang masih membeku dalam keterkejutan. Ekspresi mereka campuran antara ketakutan, rasa tidak percaya, dan kepanikan yang berusaha mereka sembunyikan di balik wajah yang biasanya angkuh. Salju di sekitar medan pertempuran berputar-putar, seolah ikut terhisap oleh tekanan spiritual yang memancar dari tubuh Lynx.

Awalnya, ketika serangan gabungan mereka hampir menghantam tubuhnya, Lynx sempat berniat untuk membelah kekuatan itu dengan satu pukulannya. Namun instingnya berbisik lain. Menghancurkan serangan dengan kekuatan akan menimbulkan ledakan yang bisa memberi dampak kerusakan pada Sekte Pedang Es, bahkan dapat membunuh para kultivator tingkat rendah yang tak bersalah. Dalam sepersekian detik, pikirannya yang tajam memutuskan jalur berbeda. Ia memanfaatkan benda misterius yang telah lama menyatu dengan akar spiritualnya.

Lynx dengan cepat membuka sedikit segel benda misterius yang kini menyatu dengan akar spiritualnya, dan sesuai dugaannya, dalam sekejap, daya hancur dari teknik gabungan sembilan Immortal tersedot masuk ke dalam dirinya, lenyap tanpa ledakan, persis saat dia menyerap energi iblis di dunia kecil..

Tatapan semua orang membeku. Para murid Sekte Pedang Es menahan napas. Sementara itu, para Immortal dari sekte lawan mulai berkeringat dingin, tidak sanggup mempercayai apa yang mereka lihat.

Lynx tidak memberi mereka waktu untuk pulih dari keterkejutan. Tubuhnya bergetar sebentar, lalu lenyap seperti bayangan ditelan angin. Hanya ada kilatan biru gelap yang bergerak di udara.

DUAGH!!!

Suara dentuman keras terdengar saat salah satu Immortal terpental ke samping, terhempas seperti boneka kain.

DUAGH!!! AKH!!!

Teriakan lain menyusul. Dalam waktu berdekatan, sembilan Immortal itu berjatuhan satu per satu. Bahkan Leena, yang memiliki penglihatan tajam dan kekuatan kultivasi yang luar biasa, hanya mampu menangkap bayangan samar gerakan Lynx. Kecepatan itu terlalu tinggi, jauh melebihi kemampuan yang bisa dia bayangkan.

BOOOOM!!!

Tubuh para Immortal menghantam tanah bersalju. Salju tebal memercik dan membumbung seperti kabut dingin. Meski mereka tidak mengalami luka parah karena qi spiritual otomatis melindungi tubuh mereka, kehormatan dan mental mereka hancur lebur. Para leluhur yang biasanya menjadi simbol kekuatan sekte kini tak berdaya, terbaring tak sadarkan diri.

Lynx melayang di atas mereka, menatap dingin ribuan pasukan musuh yang membeku ketakutan. Huo Leiyan, ketua Sekte Salju Hitam, menatap dengan mata membelalak dan mulut menganga, wajahnya pucat pasi. Ia seperti baru saja melihat dewa kematian turun ke dunia.

"Kalian pilih," suara Lynx terdengar tegas dan mengguncang udara, setiap kata diperkuat oleh energi sakti sehingga bergema di seluruh lembah es. "Pergi dari tempat ini... atau aku musnahkan kalian semua sekarang juga."

Keheningan membungkus medan pertempuran. Hanya terdengar desir angin dingin yang membawa rasa ngeri.

"Leluhur!" Teriak para ketua sekte hampir serempak setelah mereka tersadar, suara mereka bergetar panik. Beberapa ingin terbang mendekat untuk memeriksa keadaan para Immortal mereka, sementara sebagian lain ingin kabur sejauh mungkin. Namun kaki mereka seperti terpaku oleh rasa takut. Tidak ada yang berani bergerak.

"PERGI!"

Bentakan Lynx kembali bergema laksana guntur yang memecah langit. Tekanan kekuatannya menyapu seperti badai, membuat salju beterbangan ke segala arah.

Dengan rasa takut merasuki hati mereka, pasukan musuh akhirnya pecah panik. Mereka berlari, terbang, bahkan saling bertabrakan berebut memasuki portal yang telah mereka siapkan sebelumnya untuk membawa lebih banyak anggota mereka. Banyak yang terjatuh di tengah jalan, terguling di salju, lalu bangkit kembali untuk melarikan diri. Bahkan para ketua sekte, yang selama ini dikenal pemberani dan sombong, ikut terbang terbirit-birit tanpa menoleh ke belakang. Menghadapi sosok yang mampu menyerap teknik gabungan mereka semua dan menjatuhkan sembilan Immortal secepat itu, nyali mereka runtuh sepenuhnya. 

Leena menyaksikan semuanya dengan mata berbinar. Tangannya terangkat menutupi mulut, berusaha menahan tawa yang hampir pecah. Dalam hatinya, ia merasa geli sekaligus bangga. Kekasihnya benar-benar sangat kuat dan terlihat sebagai dewa kematian. Bahkan ribuan musuh tak ubahnya kawanan semut yang tercerai-berai hanya karena tatapan dan bentakan darinya.

